Huruf kapital digunakan pada huruf pertama:
a. Kata ungkapan yang berhubungan dengan keagamaan, kitab suci, dan nama Tuhan
b. Gelar (kehormatan, keturunan, keagamaan) yang diikuti oleh nama orang
c. Jabatan dan pangkat yang diikuti oleh nama orang
d. Nama bangsa, suku, dan bahasa
e. Nama hari, bulan, tahun, hari raya dan peristiwa bersejarah
f. Nama khas geografi
g. Nama resmi badan, lembaga pemerintahan, ketatanegaraan
h. Dokumen resmi
i. Kata dalam judul buku, majalah, surat kabar, karangan kecuali partikel di, ke, dari, untuk, yang (yang tidak terletak pada posisi awal)
j. Singkatan nama gelar, sapaan
k. Kata penunjuk hubungan kekerabatan
l. Setelah tanda baca petik buka pada kalimat langsung.
Tanda baca titik digunakan pada:
a. Akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan
b. Akhir singkatan nama orang
c. Akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan
d. Singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat umum
e. Di belakang angka atau huruf dalam satu bagan, ikhtisar atau daftar
f. Untuk memisahkan angka jam, menit dan detik yang menunjukkan waktu dan jangka waktu.
kumpulan ilmu
Jumat, 17 Juni 2016
Pengertian kata ganti
Kata ganti empunya (pronomina posesiva)
Kata ganti empunya adalah segala kata yang menggantikan kata ganti orang dalam kedudukan sebagai pemilik. Kata yang termasuk kata ganti empunya adalah –ku, -mu, -nya, dan kau-.
Contoh:
- Bagimu negeri, jiwa raga kami
- Bajunya terkena tinta
- Kamu menyerahkan hadiah sebagus ini untukku?
Kata ganti penunjuk (pronomina demonstrativa)
Kata ganti penunjuk adalah kata-kata yang menunjuk tempat suatu benda berada. Kata ganti penunjuk di antaranya adalah ini, itu, sana, sini, situ.
Kata ganti penghubung (pronomina relativa)
Kata ganti penghubung adalah kata-kata yang menghubungkan anak kalimat dengan suatu kata benda yang terdapat dalam induk kalimat. Kata ganti penghubung adalah yang.
Kata ganti penanya (pronomina interogativa)
Kata ganti penanya adalah kata yang menyanyakan tentang benda, orang, atau suatu keadaan. Kata ganti penanya adalah apa, siapa, mengapa, berapa, bagaimana, dan bilamana.
Kata ganti empunya adalah segala kata yang menggantikan kata ganti orang dalam kedudukan sebagai pemilik. Kata yang termasuk kata ganti empunya adalah –ku, -mu, -nya, dan kau-.
Contoh:
- Bagimu negeri, jiwa raga kami
- Bajunya terkena tinta
- Kamu menyerahkan hadiah sebagus ini untukku?
Kata ganti penunjuk (pronomina demonstrativa)
Kata ganti penunjuk adalah kata-kata yang menunjuk tempat suatu benda berada. Kata ganti penunjuk di antaranya adalah ini, itu, sana, sini, situ.
Kata ganti penghubung (pronomina relativa)
Kata ganti penghubung adalah kata-kata yang menghubungkan anak kalimat dengan suatu kata benda yang terdapat dalam induk kalimat. Kata ganti penghubung adalah yang.
Kata ganti penanya (pronomina interogativa)
Kata ganti penanya adalah kata yang menyanyakan tentang benda, orang, atau suatu keadaan. Kata ganti penanya adalah apa, siapa, mengapa, berapa, bagaimana, dan bilamana.
Pengertian kata baku, kata tidak baku dan kata serapan
Kata baku adalah kata-kata yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Acuan yang dapat digunakan adalah KBBI, EYD, pedoman pembentukan istilah, dan tata bahasa baku bahasa Indonesia, sedangkan yang tidak mengikuti kaidah disebut bahasa tidak baku. Pembakuan kata-kata juga berlaku untuk istilah dan kata serapan atau berasal dari bahasa asing, bunyi dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.
Kata bersinonim adalah kata-kata yang memiliki makna yang sama atau mirip. Kata-kata bersinonim tidak selalu dapat bersubstitusi atau saling mengganti. Hal tersebut bergantung pada konteks kalimatnya.
Misalnya, kata ‘karam’ bersinonim dengan kata ‘tenggelam’.
Contoh:
a. karena terlampau banyak muatannya, kapal yang bernama Harimau itu tenggelam
b. matahari tenggelam di ufuk barat
pada kalimat pertama, tenggelam bersinonim dengan karam, sedangkan pada kalimat yang kedua, tenggelam tidak bersinonim dengan karam. Perlu diketahui bahwa sinonim kata harus berbentuk kata. Oleh karena itu, tidak semua kata dapat dicari sinonimnya.
Cara yang paling praktis untuk memperluas kosakata adalah dengan cara menguasai kata-kata yang bersinonim, banyak membaca, dan rajin mengolah kata.
Kata dasar dan kata turunan
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Kata turunan
Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
Jika ada salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu dituliskan serangkai.
Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).
Jika kata ‘maha’ sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata ‘esa’ dan kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah.
Kata bersinonim adalah kata-kata yang memiliki makna yang sama atau mirip. Kata-kata bersinonim tidak selalu dapat bersubstitusi atau saling mengganti. Hal tersebut bergantung pada konteks kalimatnya.
Misalnya, kata ‘karam’ bersinonim dengan kata ‘tenggelam’.
Contoh:
a. karena terlampau banyak muatannya, kapal yang bernama Harimau itu tenggelam
b. matahari tenggelam di ufuk barat
pada kalimat pertama, tenggelam bersinonim dengan karam, sedangkan pada kalimat yang kedua, tenggelam tidak bersinonim dengan karam. Perlu diketahui bahwa sinonim kata harus berbentuk kata. Oleh karena itu, tidak semua kata dapat dicari sinonimnya.
Cara yang paling praktis untuk memperluas kosakata adalah dengan cara menguasai kata-kata yang bersinonim, banyak membaca, dan rajin mengolah kata.
Kata dasar dan kata turunan
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Kata turunan
Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
Jika ada salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu dituliskan serangkai.
Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).
Jika kata ‘maha’ sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata ‘esa’ dan kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah.
Kasti
Ukuran lapangan kasti:
Panjang 45 meter sampai 60 meter (ditambah ruang bebas 5 meter)
Lebar 30 meter
Penonton harus 5 – 10 meter di luar batas.
Alat yang diperlukan dalam bermain kasti, antara lain:
a. kayu pemukul
- panjang 50 – 60 cm
- penampangnya bergaris tengah 5 cm.
b. bola
- dibuat dari karet, berat 70 gram – 30 gram
- diameternya kurang lebih 20 cm.
c. tiang hinggap berjumlah 3 buah, yaitu:
- satu buah tiang pertolongan dan dua buah tiang bebas
- tinggi tiang 150 cm.
d. nomor dada.
Permainan kasti dimainkan oleh dua regu
Tiap regu berjumlah 12 orang
Regu yang jaga disebut partai lapangan
Regu yang memainkan disebut partai memukul.
Lama permainan 2 x 30 menit, istirahat 10 menit.
Nilai
a. seorang pemukul yang baik pukulannya, kemudian lari ke tiang bebas lalu kembali ke ruang bebas, atas pukulannya sendiri, nilainya dua dan disebut run
b. bila hal tersebut terjadi setelah teman lainnya memukul, ia mendapat nilai satu
c. parta lapangan mendapat nilai satu, bila dapat menangkap bola pukulan lawan sebelum menyentuh tanah.
Bola mati
Bola dianggap mati, apabila:
a. setelah pukulan betul
b. setelah pukulan tidak kena dan partai lapangan memainkan bola.
Pergantian tidak bebas terjadi, apabila:
a. seorang pelari kena lemparan
b. partai lapangan yang waktu itu berada di luar garis batas harus segera masuk lapangan, kemudian mencari tempat perlindungan.
Pergantian bebas terjadi, apabila:
a. sudah tiga kali tangkap bola
b. pembebas telah memukul tiga kali secara salah atau tidak kena
c. ruang bebas dibakar
d. seorang pelari keluar lapangan
e. seorang pemain partai pemukul keluar dari ruang bebas tidak untuk memukul
f. kayu pemukul terlepas
g. partai pemukul merugikan lawan dengan cara:
- sengaja menyepak bola
- mendesak pemain partai lapangan
- memegang bola dimana saja
- menonjolkan kepala ke arah si pelempar.
Panjang 45 meter sampai 60 meter (ditambah ruang bebas 5 meter)
Lebar 30 meter
Penonton harus 5 – 10 meter di luar batas.
Alat yang diperlukan dalam bermain kasti, antara lain:
a. kayu pemukul
- panjang 50 – 60 cm
- penampangnya bergaris tengah 5 cm.
b. bola
- dibuat dari karet, berat 70 gram – 30 gram
- diameternya kurang lebih 20 cm.
c. tiang hinggap berjumlah 3 buah, yaitu:
- satu buah tiang pertolongan dan dua buah tiang bebas
- tinggi tiang 150 cm.
d. nomor dada.
Permainan kasti dimainkan oleh dua regu
Tiap regu berjumlah 12 orang
Regu yang jaga disebut partai lapangan
Regu yang memainkan disebut partai memukul.
Lama permainan 2 x 30 menit, istirahat 10 menit.
Nilai
a. seorang pemukul yang baik pukulannya, kemudian lari ke tiang bebas lalu kembali ke ruang bebas, atas pukulannya sendiri, nilainya dua dan disebut run
b. bila hal tersebut terjadi setelah teman lainnya memukul, ia mendapat nilai satu
c. parta lapangan mendapat nilai satu, bila dapat menangkap bola pukulan lawan sebelum menyentuh tanah.
Bola mati
Bola dianggap mati, apabila:
a. setelah pukulan betul
b. setelah pukulan tidak kena dan partai lapangan memainkan bola.
Pergantian tidak bebas terjadi, apabila:
a. seorang pelari kena lemparan
b. partai lapangan yang waktu itu berada di luar garis batas harus segera masuk lapangan, kemudian mencari tempat perlindungan.
Pergantian bebas terjadi, apabila:
a. sudah tiga kali tangkap bola
b. pembebas telah memukul tiga kali secara salah atau tidak kena
c. ruang bebas dibakar
d. seorang pelari keluar lapangan
e. seorang pemain partai pemukul keluar dari ruang bebas tidak untuk memukul
f. kayu pemukul terlepas
g. partai pemukul merugikan lawan dengan cara:
- sengaja menyepak bola
- mendesak pemain partai lapangan
- memegang bola dimana saja
- menonjolkan kepala ke arah si pelempar.
Pengertian karya tulis ilmiah
Karya tulis ilmiah adalah karya tulis yang ditulis berdasarkan penelitian. Karya ilmiah yang lengkap biasanya terbagi menjadi tiga besar, yakni (1) bagian pelengkap pendahuluan, (2) bagian isi atau pembahasan, dan (3) bagian pelengkap penutup.
Bagian pelengkap pendahuluan terdiri atas halaman judul, halaman motto, halaman pengesahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, arti lambang dan singkatan, dan abstrak.
Bagian isi atau pembahasan terdiri atas bab pendahuluan yang meliputi: (1) latar belakang, (2) perumusan masalah, (3) ruang lingkup masalah, (4) tujuan penulisan, (5) metode penelitian, dan (6) sistematika penulisan; bab pembahasan; dan bab kesimpulan dan saran.
Bagian pelengkap penutup antara lain, daftar pustaka dan lampiran.
Kata pengantar, berfungsi sebagai surat pengantar kepada pembaca yang isinya berbagai hal mengenai karya tulis tersebut.
Daftar isi, merupakan gambaran isi secara singkat. Judul-judul bab ditulis dengan huruf kapital, judul-judul subbab ditulis dengan huruf kecil kecuali huruf awal dari kata-kata yang penting.
Abstrak, berisi garis besar dari karya tulis. Isinya lebih singkat daripada kesimpulan.
Bab pendahuluan/isi, merupakan tubuh karangan yang mempunyai bagian yang sangat esensial. Dalam bagian ini terdapat semua masalah yang dijabarkan secara sistematis. Artinya dalam penyusunan harus beraturan dan konsisten. Pembagian bab ke subbab harus sesuai dengan tingkatan-tingkatan yang sederajat.
Kesimpulan dan saran, merupakan inti dari uraian yang telah dijelaskan dalam tubuh. Kesimpulan harus dirumuskan secara jelas dan tegas. Begitu pula dengan saran, kepada siapa saran ditujukan, dan kemungkinan adanya perbaikan.
Daftar pustaka, merupakan daftar buku atau artikel yang menunjang hasil pengamatan penulis. Daftar pustaka biasanya memuat nama pengarang (dibalik), tahun terbitan, judul buku (digarisbawahi atau dicetak miring), tempat penerbit, penerbit.
Lampiran disusun setelah daftar pustaka. Lampiran dapat berupa struktur organisasi, peta kelurahan, dan lain-lain.
Bagian pelengkap pendahuluan terdiri atas halaman judul, halaman motto, halaman pengesahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, arti lambang dan singkatan, dan abstrak.
Bagian isi atau pembahasan terdiri atas bab pendahuluan yang meliputi: (1) latar belakang, (2) perumusan masalah, (3) ruang lingkup masalah, (4) tujuan penulisan, (5) metode penelitian, dan (6) sistematika penulisan; bab pembahasan; dan bab kesimpulan dan saran.
Bagian pelengkap penutup antara lain, daftar pustaka dan lampiran.
Kata pengantar, berfungsi sebagai surat pengantar kepada pembaca yang isinya berbagai hal mengenai karya tulis tersebut.
Daftar isi, merupakan gambaran isi secara singkat. Judul-judul bab ditulis dengan huruf kapital, judul-judul subbab ditulis dengan huruf kecil kecuali huruf awal dari kata-kata yang penting.
Abstrak, berisi garis besar dari karya tulis. Isinya lebih singkat daripada kesimpulan.
Bab pendahuluan/isi, merupakan tubuh karangan yang mempunyai bagian yang sangat esensial. Dalam bagian ini terdapat semua masalah yang dijabarkan secara sistematis. Artinya dalam penyusunan harus beraturan dan konsisten. Pembagian bab ke subbab harus sesuai dengan tingkatan-tingkatan yang sederajat.
Kesimpulan dan saran, merupakan inti dari uraian yang telah dijelaskan dalam tubuh. Kesimpulan harus dirumuskan secara jelas dan tegas. Begitu pula dengan saran, kepada siapa saran ditujukan, dan kemungkinan adanya perbaikan.
Daftar pustaka, merupakan daftar buku atau artikel yang menunjang hasil pengamatan penulis. Daftar pustaka biasanya memuat nama pengarang (dibalik), tahun terbitan, judul buku (digarisbawahi atau dicetak miring), tempat penerbit, penerbit.
Lampiran disusun setelah daftar pustaka. Lampiran dapat berupa struktur organisasi, peta kelurahan, dan lain-lain.
Objek seni rupa, Tema seni rupa dan Makna simbolis seni rupa
Hal yang diwujudkan menjadi karya seni disebut objek karya seni. Sehingga, objek seni rupa pun bermacam-macam. Beragamnya budaya tiap masyarakat akan memberi pengaruh pada gaya penyajian seni rupa. Perbedaan alam tempat tinggal juga mempengaruhi perbedaan karya seni. Bagi masyarakat di pedalaman, hutan, persawahan, gunung, hewan dan tumbuhan serta peralatan yang digunakan di sana merupakan objek yang lazim ditemui. Sedangkan bagi masyarakat yang tinggal di pesisir, objek yang lebih banyak ditemui misalnya laut, tumbuhan pantai, berbagai hewan laut, dan kegiatan manusia di laut dan di pantai.
Tema di sini maksudnya adalah apa yang hendak diceritakan oleh karya seni rupa tersebut. Tema tergantung pada hal apa yang menarik minat perupa untuk kemudian diciptakan menjadi karya seni. Secara tematik, ragam karya seni rupa dapat diwujudkan berdasarkan tema-tema sebagai berikut.
a. Manusia dan dirinya sendiri
b. Hubungan manusia dengan manusia lain
c. Manusia dengan alam sekitarnya
d. Manusia dan kegiatannya
e. Manusia dengan alam benda
f. Manusia dengan alam khayal (supranatural).
Makna simbolis karya seni rupa tampak jelas dalam benda yang berhubungan dengan religi atau keagamaan dan adat. Berbagai arca dan pahatan relief peninggalan jaman kerajaan Hindu-Budha merupakan simbol dari berbagai hal dalam kebudayaan Hindu-Budha. Contohnya: lingga dan yoni menjadi lambang pria dan wanita serta lambang kesuburan; arca dewa kuwara menjadi lambang kekayaan; dan lain sebagainya.
Tiap warna juga melambangkan sesuatu hal dan memberi kesan berbeda.
Contoh:
Merah: berani, bahaya, semangat, marah, jahat, dinamis
Biru: tenang, sejuk, hening, haru, sayu
Kuning: riang, terang, hangat, agung
Hitam: kematian, dramatis, gelap, sedih, kesungguhan
Putih: kebenaran, suci, murni, terang
Ungu: kebangsawanan, kekayaan
Hijau: harapan, muda, tumbuh.
Tema di sini maksudnya adalah apa yang hendak diceritakan oleh karya seni rupa tersebut. Tema tergantung pada hal apa yang menarik minat perupa untuk kemudian diciptakan menjadi karya seni. Secara tematik, ragam karya seni rupa dapat diwujudkan berdasarkan tema-tema sebagai berikut.
a. Manusia dan dirinya sendiri
b. Hubungan manusia dengan manusia lain
c. Manusia dengan alam sekitarnya
d. Manusia dan kegiatannya
e. Manusia dengan alam benda
f. Manusia dengan alam khayal (supranatural).
Makna simbolis karya seni rupa tampak jelas dalam benda yang berhubungan dengan religi atau keagamaan dan adat. Berbagai arca dan pahatan relief peninggalan jaman kerajaan Hindu-Budha merupakan simbol dari berbagai hal dalam kebudayaan Hindu-Budha. Contohnya: lingga dan yoni menjadi lambang pria dan wanita serta lambang kesuburan; arca dewa kuwara menjadi lambang kekayaan; dan lain sebagainya.
Tiap warna juga melambangkan sesuatu hal dan memberi kesan berbeda.
Contoh:
Merah: berani, bahaya, semangat, marah, jahat, dinamis
Biru: tenang, sejuk, hening, haru, sayu
Kuning: riang, terang, hangat, agung
Hitam: kematian, dramatis, gelap, sedih, kesungguhan
Putih: kebenaran, suci, murni, terang
Ungu: kebangsawanan, kekayaan
Hijau: harapan, muda, tumbuh.
Pengertian karya seni rupa terapan
Karya seni rupa terapan merupakan karya seni rupa yang mengutamakan fungsi pakainya dan juga dinikmati mutu seninya. Seni rupa terapan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu seni kriya atau kerajinan tangan seperti ukiran, anyaman, keramik, topeng, serta batik, dan desain seperti ragam hias, produk, interior, eksterior.
Unsur-unsur yang ada dalam seni rupa antara lain sebagai berikut:
1) Titik, merupakan unsur seni rupa yang paling sederhana. Unsur titik akan tampak berarti pada karya seni rupa apabila jumlahnya cukup banyak atau ukurannya diperbesar.
2) Garis, merupakan unsur seni rupa yang terbuat dari rangkaian titik yang terjalin memanjang menjadi satu. Ada empat macam garis yaitu garis lurus, garis lengkung, garis patah-patah, dan garis spiral atau pilin.
3) Bidang, merupakan unsur seni rupa yang terjadi karena pertemuan dari beberapa garis. Bidang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu bidang geometris dan nongeometris.
4) Bentuk, adalah unsur seni rupa yang terbentuk karena ruang atau volume. Macam-macam bentuk dalam seni rupa adalah bentuk kubistik, silindris, bola, limas, prisma, kerucut, nongeometris.
5) Warna, merupakan unsur seni rupa yang terbuat dari pigmen atau zat warna. Warna dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu kelompok warna primer, sekunder, dan tertier.
6) Tekstur, merupakan nilai permukaan suatu benda (halus atau kasar). Secara visual, tekstur dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tekstur nyata dan tekstur semu.
7) Gelap-terang, merupakan keadaan suatu bidang yang dibedakan dengan warna tua untuk gelap, dan warna muda untuk terang. Gelap terang disebabkan oleh perbedaan warna atau karena pengaruh cahaya.
Unsur-unsur yang ada dalam seni rupa antara lain sebagai berikut:
1) Titik, merupakan unsur seni rupa yang paling sederhana. Unsur titik akan tampak berarti pada karya seni rupa apabila jumlahnya cukup banyak atau ukurannya diperbesar.
2) Garis, merupakan unsur seni rupa yang terbuat dari rangkaian titik yang terjalin memanjang menjadi satu. Ada empat macam garis yaitu garis lurus, garis lengkung, garis patah-patah, dan garis spiral atau pilin.
3) Bidang, merupakan unsur seni rupa yang terjadi karena pertemuan dari beberapa garis. Bidang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu bidang geometris dan nongeometris.
4) Bentuk, adalah unsur seni rupa yang terbentuk karena ruang atau volume. Macam-macam bentuk dalam seni rupa adalah bentuk kubistik, silindris, bola, limas, prisma, kerucut, nongeometris.
5) Warna, merupakan unsur seni rupa yang terbuat dari pigmen atau zat warna. Warna dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu kelompok warna primer, sekunder, dan tertier.
6) Tekstur, merupakan nilai permukaan suatu benda (halus atau kasar). Secara visual, tekstur dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tekstur nyata dan tekstur semu.
7) Gelap-terang, merupakan keadaan suatu bidang yang dibedakan dengan warna tua untuk gelap, dan warna muda untuk terang. Gelap terang disebabkan oleh perbedaan warna atau karena pengaruh cahaya.
Langganan:
Postingan (Atom)